Bitcoin Babak Belur, Jalan Mulus Bagi Emas Balik ke US$ 2.000 | PT Solid Gold Berjangka

PT Solid Gold Berjangka Semarang | Emas dan Bitcoin ibarat rival. Kalau harga emas naik, harga aset digital mother of all cryptos Bitcoin cenderung turun. Keduanya saling berkompetisi untuk dilirik para investor dan trader baik ritel maupun institusi.

Suplai yang terbatas di tengah kebijakan moneter ultra longgar dan fiskal ekspansif lewat countercyclical policy measures membuat Bitcoin diminati. Pemain mata uang kripto buatan Satoshi Nakamoto itu kini ikut menarik perhatian big money mulai dari perusahaan keuangan seperti bank hingga hedge fund sampai produsen mobil listrik.

Inflow uang ke aset Bitcoin membuat harganya melambung hingga seratus persen sebelum akhirnya anjlok signifikan belakangan ini. Di saat yang sama, banyak investor yang menarik dana dari emas.

Jika dibayangkan secara sekilas investor mulai mengalihkan uangnya ke aset-aset yang lebih berisiko. Risk appetite yang membaik juga didukung dengan prospek ekonomi yang lebih mantap di tahun ini seiring dengan vaksinasi yang terus berjalan secara agresif di banyak negara-negara kaya.

Bahkan sampai ada yang menyamakan Bitcoin sebagai emas digital dan layak untuk dijadikan hedging asset saat suhu tubuh perekonomian dunia mulai menghangat. Namun tak seperti emas yang sudah teruji selama berabad-abad, Bitcoin hanyalah new kids on the block yang baru seumur jagung.

Ketika inflasi di AS mulai semakin kentara, pamor emas yang sempat surut mulai naik lagi. Kini giliran Bitcoin yang tertekan. Saat emas kembali tembus US$ 1.850 dan kini sampai di US$ 1.867/troy ons di atas rata-rata harga 200 hariannya (MA200), nilai Bitcoin justru longsor.

Seolah remnya blong, sejak pertengahan April Bitcoin sudah kehilangan hampir 37% kapitalisasi pasarnya. Emas malah melompat 5% lebih di waktu yang sama. Dari US$ 63.000/BTC, kini Bitcoin sudah turun ke bawah US$ 40.000/BTC.

Banyak faktor yang membuat harga Bitcoin jatuh. Mulai dari respons pengambil kebijakan yang melarang Bitcoin seperti di China.

Warning penggunaan Bitcoin sebagai alat tukar oleh Menteri Keuangan AS Janet Yellen dan ekonom kawakan Paman Sam Roubini hingga yang terbaru ada Mr. Pompom Crypto siapa lagi kalau bukan Elon Reeve Musk.

Melihat aktivitas mining untuk validasi transaksi Bitcoin yang mengkonsumsi banyak listrik dan bertentangan dengan visi dan misi pria crazy rich dunia tersebut, Tesla kini tak lagi mau menerima pembayaran menggunakan aset digital tersebut. Kontradiktif dengan maksud awal Musk memang.

Terlepas dari itu semua, hubungan emas dan Bitcoin semakin jelas. Saling berlawanan arah! Bahkan analis meyakini jika Bitcoin semakin longsor tak menutup kemungkinan harga emas bakal menuju puncak.

Analis mulai memperkirakan bahwa harga emas kembali ke level US$ 2.000/troy ons adalah suatu kejadian yang peluangnya besar. Apalagi jika inflasi yang terus naik tetapi The Fed masih enggan bersikap hawkish. Dolar AS yang tertekan memberikan kondisi yang paling kondusif untuk emas kembali bersinar.

sumber:cnbcindonesia.com – PT Solid Gold Berjangka