PT Solid Gold Berjangka

Punya Emas Pas Harga Lagi Anjlok, Tahan Atau Jual? | PT Solid Gold Berjangka

PT Solid Gold Berjangka Semarang | Harga emas Antam belakangan ini terus mengalami penurunan. Meski kemarin mengalami kenaikan, posisinya sudah jauh meninggalkan level rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Selama 2020 harga emas begitu begitu bersinar dan menjadi produk investasi yang dipilih banyak orang. Penyebabnya pandemi COVID-19 yang membuat ekonomi terguncang dan membuat para investor memilih emas untuk mengamankan nilai asetnya.

Harga emas Antam sempat menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah Rp 1.065.000 per gram di 7 Agustus 2020. Sementara hari ini harga emas Antam sudah berada di level Rp 938.000 per gram.

Kilau emas memang sudah memudar. Belakangan ini harga emas terus turun. Sebab pandemi COVID-19 mulai menunjukkan titik cerah. Banyak negara yang sudah memulai vaksinasi dengan harapan ekonomi bisa cepat pulih.

Menurut Direktur TFRX Garuda Berjangka, Ibrahim secara jangka pendek harga emas dalam tren positif. Sebab ada sentimen dari Bank Sentral AS atau Federal Reserve yang masih akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di level terendah.

Ibrahim memprediksi harga emas acuan dunia akan naik secara jangka pendek ke level US$ 1.900 per ons. Sementara hari ini harga emas dunia berada di level US$ 1.807 per ons. Jika investor terlanjur beli di level tertinggi bisa cut loss atau jual di level tersebut. Meski rugi namun bisa menghindari kerugian yang lebih besar.

“Bisa saja yang kemarin beli itu bernafsu membeli karena ada informasi yang positif. Jadi ya kemungkinan kalau saat US$ 1.900 per ons dijual pun pasti masih rugi. Kalau dirupiahkan dengan asumsi Rp 14.200 maka sekitar Rp 968.000 per gram. Ruginya tidak terlalu besar,” tuturnya saat dihubungi detikcom, Rabu (24/2/2021).

Namun ada pilihan kedua, jika ingin tetap untung maka Ibrahim menyarankan agar tetap menahan emasnya hingga 9 tahun lamanya. Menurut prediksinya harga emas akan melampaui rekor tertinggi tahun lalu setelah 9 tahun ke depan.

“Kalau mau BEP ya tunggu 9 tahun lagi, saat itu baru menguntungkan. Tapi apakah kuat menahan sampai 9 tahun? Saya tahu spekulan Indonesia mereka ingin untung cepat, kalau segitu kalau bisa di US$ 1.900 cut loss,” tambahnya.

Sementara analis logam mulia di Credit Suisse, Fahad Tariq mengatakan harga emas memang rentan terhadap prospek ekonomi dan suku bunga. Dia menambahkan jika dilihat dari kenaikan imbal hasil obligasi, pasar dapat memperkirakan kenaikan suku bunga paling cepat pada pertengahan 2023.

Namun, dia menambahkan bahwa emas bisa mendapatkan dorongan jika Federal Reserve berbicara tentang potensi untuk menerapkan program pengendalian kurva hasil untuk membatasi kenaikan imbal hasil obligasi.

“Secara keseluruhan, lingkungan suku bunga riil dan sikap Fed tetap mendukung harga emas, tetapi kunci yang harus diperhatikan adalah jika imbal hasil terus meningkat dan tentu saja, jika Fed AS, pada kenyataannya, mengubah sikap dovish-nya. Tapi kami pikir ini tidak mungkin dengan melihat komentar baru-baru ini,” tuturnya dilansir dari Kitco.

sumber:detik.com – PT Solid Gold Berjangka