PT Solid Gold Berjangka

Rupiah Paling Kuat di Akhir 2019, Ini Penjelasan BI – PT Solid Gold Berjangka

PT Solid Gold Berjangka Semarang | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tercatat mengalami penguatan di ujung tahun 2019. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) nilai tukar rupiah tercatat Rp 13.901 per dolar AS.

Menanggapi hal tersebut Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah menjelaskan penguatan rupiah yang cukup signifikan di akhir 2019 di bawah 13.900 memang seharusnya terjadi.

“Hal ini karena didukung oleh kondisi faktor global yang mulai kondusif (meskipun tetap harus diwaspadai), pengaruh musiman akhir tahun, valuasi aset finansial domestik yang tetap menarik, serta faktor teknikal,” kata Nanang saat dihubungi detikcom, Selasa (31/12/2019).

Dia mengungkapkan selain negosiasi konflik dagang AS-China fase pertama mulai menemukan titik temu dan The Fed yang sudah memberikan sinyal yang jelas mengenai arah pergerakan suku bunga ke depan, sejumlah indikator ekonomi di berbagai negara juga mengindikasikan proses pelemahan yang mereda (turn around).

Menurut dia, ketiga faktor global ini memicu pelepasan instrumen safe haven atau aksi ‘flight from quality’ dari aset yang dianggap paling aman seperti US Treasury Bond dan emas ke saham dan sebagian besar aset finansial yang dianggap berisiko seperti saham dan aset negara emerging market (EM).

Nanang menjelaskan kondisi global yang mulai berbalik arah tersebut juga memicu para forex traders di pasar keuangan global yang selama ini menumpuk posisi long di spot dan NDF (IDR) karena melihat dolar AS yang akan terus menguat dengan ekspektasi perang dagang AS-China berkepanjangan menjadi berbalik arah dengan melikuidasi (unwinding) posisi long baik di pasar spot maupun NDF.

Dia mengungkapkan selain negosiasi konflik dagang AS-China fase pertama mulai menemukan titik temu dan The Fed yang sudah memberikan sinyal yang jelas mengenai arah pergerakan suku bunga ke depan, sejumlah indikator ekonomi di berbagai negara juga mengindikasikan proses pelemahan yang mereda (turn around).

Menurut dia, ketiga faktor global ini memicu pelepasan instrumen safe haven atau aksi ‘flight from quality’ dari aset yang dianggap paling aman seperti US Treasury Bond dan emas ke saham dan sebagian besar aset finansial yang dianggap berisiko seperti saham dan aset negara emerging market (EM).

Nanang menjelaskan kondisi global yang mulai berbalik arah tersebut juga memicu para forex traders di pasar keuangan global yang selama ini menumpuk posisi long di spot dan NDF (IDR) karena melihat dolar AS yang akan terus menguat dengan ekspektasi perang dagang AS-China berkepanjangan menjadi berbalik arah dengan melikuidasi (unwinding) posisi long baik di pasar spot maupun NDF.

sumber: detik.com – PT Solid Gold Berjangka