Catat! Harga Emas Diramal Merosot 45% Gegara Taper TantrumSolid Berjangka

Solid Berjangka Semarang | Harga emas dunia sedang tertekan di pekan ini akibat isu tapering yang belum pergi dari pasar finansial.

Berkaca dari sejarah, harga emas dunia bisa merosot hingga lebih dari 45% akibat tapering. Ketika harga emas dunia ambrol, maka harga logam mulia di dalam negeri seperti emas Antam juga ikut menurun.

Tapering merupakan kebijakan mengurangi nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) bank sentral AS (The Fed).

Ketika hal tersebut dilakukan, maka aliran modal akan keluar dari negara emerging market dan kembali ke Negeri Paman Sam. Hal tersebut dapat memicu gejolak di pasar finansial yang disebut taper tantrum.

Saat itu terjadi, dolar AS menjadi perkasa, dan harga emas dunia yang dibanderol dengan mata uang Paman Sam menjadi terpukul.

Taper tantrum pernah terjadi pada periode 2013-2015. Tetapi jauh sebelumnya, emas sudah bereaksi terhadap kebijakan moneter The Fed.

Sebelum menggelontorkan QE akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19) sejak Maret 2020 lalu, The Fed pernah melakukan hal sama saat terjadi krisis finansial global 2008.

The Fed saat itu menerapkan QE dalam 3 tahap. QE 1 dilakukan mulai November 2008, kemudian QE 2 mulai November 2010, dan QE 3 pada September 2012. Nilainya pun berbeda-beda, saat QE 1 The Fed membeli efek beragun senilai US$ 600 miliar, kemudian QE 2 juga sama senilai US$ 600 miliar tetapi kali ini yang dibeli adalah obligasi pemerintah (Treasury) AS.

QE 1 dan 2 tersebut membawa harga emas meroket dan menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa saat itu US$ 1.920,3/troy ons pada 6 September 2011. Setelahnya harga emas terkoreksi tajam hingga ke US$ 1.600an/troy ons dan akhirnya berkonsolidasi dengan batas atas di kisaran US$ 1.800an/troy ons, emas tidak pernah lagi mendekati rekornya.

QE 3 yang dirilis The Fed pada September 2012 juga belum mampu membawa harga emas dunia kembali ke US$ 1.900/troy ons, bahkan berujung “petaka” bagi logam mulia. QE 3 berbeda dari dua stimulus moneter sebelumnya, kali ini sifatnya open-ended, artinya nilainya tidak terbatas sesuai kebutuhan. Pada satu titik ketika perekonomian AS sudah pulih maka QE tersebut akan dihentikan, tetapi sebelumnya dilakukan tapering. QE 3 saat itu senilai US$ 85 miliar per bulan.

Meski nilai QE tersebut besar, tetapi harga emas tidak begitu meresponnya sebab pasar tahu akan dilakukan tapering yang memicu taper tantrum.

Benar saja, The Fed yang saat itu dipimpin Ben Bernanke mengeluarkan wacana tapering pada pertengahan 2013 dan mulai mengurangi QE sebesar US$ 10 miliar per bulan dimulai pada Desember, hingga akhirnya dihentikan pada Oktober 2014.

Tidak sampai di situ, setelah QE berakhir muncul wacana normalisasi alias kenaikan suku bunga The Fed. Alhasil, harga emas terus merosot hingga ke titik terendah yang dicapai yakni US$ 1.045,85/troy ons pada 3 Desember 2015.

Artinya, jika dilihat dari rekor tertinggi tahun 2011 hingga ke level terendah tersebut, harga emas dunia ambrol 45,54% dalam tempo 4 tahun.

Pandemi Covid-19 membuat The Fed menggelontorkan QE senilai US$ 120 miliar per bulan sejak Maret tahun lalu. Dampaknya, harga emas pun meroket dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa US$ 2.072,49/troy ons pada 7 Agustus 2020.

Namun, sama seperti tahun 2011, setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa harga emas malah melorot dan hingga saat ini belum mampu lagi mencapai US$ 2.000/troy ons.

Wacana tapering belakangan ini kembali muncul setelah Presiden The Fed wilayah Philadelphia, Patrick Harker, kembali membuka wacana tersebut.

Harker mengatakan perekonomian AS terus menunjukkan pemulihan dari krisis virus corona dan pasar tenaga kerja terus menunjukkan penguatan, dan menjadi saat yang tepat bagi The Fed untuk mulai memikirkan tapering.

“Kami berencana mempertahankan suku bunga acuan di level rendah dalam waktu yang lama. Tetapi ini mungkin saatnya untuk mulai memikirkan pengurangan program pembelian aset yang saat ini senilai US$ 120 miliar,” kata Harker sebagaimana dilansir Reuters.

CNBC International melaporkan The Fed kemungkinan sudah mulai mendiskusikan tapering di bulan ini atau bulan depan. Meski demikian, pengumuman kapan tapering akan dilakukan baru akan dilakukan pada bulan September atau November. Dan tapering pertama akan dilakukan pada Desember tahun ini atau Januari tahun depan.

Melihat pergerakan emas saat spekulasi tapering di tahun 2013, tentunya ada risiko harga emas akan merosot juga. Tetapi ada hal yang berbeda kali ini, inflasi di AS saat ini naik tajam, jauh lebih tinggi ketimbang tahun 2013.

Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat (28/5/2021) lalu melaporkan data inflasi berdasarkan personal consumption expenditure (PCE). Data tersebut merupakan inflasi acuan bagi The Fed.

Inflasi PCE inti dilaporkan tumbuh 3,1% year-on-year (yoy) di bulan April, jauh lebih tinggi ketimbang bulan sebelumnya 1,8% yoy. Rilis tersebut juga lebih tinggi ketimbang hasil survei Reuters terhadap para ekonomi yang memprediksi kenaikan 2,9%. Selain itu, rilis tersebut juga merupakan yang tertinggi sejak Juli 1992, nyaris 30 tahun terakhir.

Kenaikan tajam inflasi tersebut sebenarnya sudah diprediksi oleh The Fed, dan dikatakan hanya sementara. Tetapi, seandianya berkelanjutan maka hal tersebut bisa menguntungkan bagi emas.

Sebabnya, emas secara tradisional dianggap aset lindung nilai terhadap inflasi, ketika inflasi tinggi maka permintaannya berpotensi meningkat dan meredam penurunan harga yang tajam.

sumber : cnbcindonesia.com – Solid Berjangka