Harga Emas Turun Lagi, Lagi, dan Lagi…Solid Berjangka

Solid Berjangka Semarang | Harga emas dunia turun tipis pada perdagangan pagi ini. Jadi kapan harga sang logam mulia bisa naik lagi?

Pada Jumat (6/8/2021) pukul 06:31 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.803,65/troy ons. Turun 0,02% dibandingkan hari sebelumnya.

Minggu ini sepertinya bukan milik emas. Dalam sepekan terakhir, harga turun 1,32% secara point-to-pont.

Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memperkirakan harga emas masih bisa turun lagi. Wang menilai target harga berada di US$ 1.789,98/troy ons, yang akan terjadi saat titik support US$ 1.802/troy ons tertembus.

“Jika harga naik dan menembus titik resistance US$ 1.822/troy ons, investor bisa berharap level berikutnya ada di kisaran US$ 1.832-1.853/troy ons. Namun sepertinya harga emas masih terjebak di zona netral US$ 1.806-1.840. Tren pergerakan akan lebih jelas jika harga berhasil keluar dari level tersebut,” papar Wang dalam risetnya.

Dalam waktu dekat, sentimen yang akan menggerakkan harga emas adalah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS). Malam nanti waktu Indonesia, US Bureau of Labor Statistics akan mengumumkan angka pembukaan lapangan kerja non-pertanian dan tingkat pengangguran periode Juli 2021.

Konsensus pasar yang dihimpun Reuters memperkirakan ekonomi Negeri Paman Sam menciptakan 870.000 lapangan kerja bulan lalu. Lebih tinggi dibandingkan Juni 2021 yaitu 850.000.

Perbaikan yang terus terjadi di pasar tenaga kerja akan membuat bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) semakin mantap dalam melakukan pengetatan kebijakan atau tapering off. Richard Clarida, Wakil Ketua The Fed, melihat kebutuhan pengetatan kebijakan sudah semakin mendesak.

“Anda duduk di sini dan melihat inflasi sudah jauh di atas target dan pasar ketenagakerjaan terus membaik menuju level pra-pandemi. Menurut saya, ini terdengar seperti kami harus bersiap,” kata Clarida dalam wawancara bersama Washington Post.

Pengetatan kebijakan moneter akan membuat dolar AS di atas angin. Saat The Fed mengurangi pembelian aset (quantitative easing), maka pasokan dolar AS akan berkurang sehingga nilai tukarnya menguat.

Penguatan dolar AS adalah kabar buruk baut harga emas. Sebab, emas adalah komoditas yang dibanderol dengan dolar AS.

Begitu dolar AS terapresiasi, harga emas akan lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain. Permintaan emas turun, harga pun mengikuti.

“Harga emas sedang rentan terhadap downside risk. Kami memperkirakan data tenaga kerja akan kuat, sehingga harga emas bisa turun lagi,” kata Daniel Ghali, Commodity Strategist di TD Securities, seperti dikutip dari Reuters.

sumber : cnbcindonesia.com – Solid Berjangka