Solid Berjangka | Harga Minyak Mentah Jatuh, Eh Harga CPO juga Ikutan

Solid Berjangka

Harga Minyak Mentah Jatuh, Eh Harga CPO juga Ikutan – Solid Berjangka

Solid Berjangka Semarang | Penurunan harga minyak mentah membuat harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Harga kontrak CPO pengiriman Juni di Bursa Malaysia Derivatif Exchange ambles nyaris 2%.

Harga CPO jatuh 1,82% dibanding posisi penutupan perdagangan kemarin. Jelang istirahat siang hari ini, Kamis (8/4/2021) harga minyak nabati Malaysia ini berada di RM 3.775/ton.

Meskipun IMF memberikan ramalan yang lebih bagus untuk prospek perekonomian tahun ini, tetapi harga minyak tak langsung terbang. Malahan harga minyak ambles. Ada kenaikan stok bensin yang tinggi di AS.

Penurunan harga si emas hitam juga memantik koreksi harga minyak nabati lain tak terkecuali minyak sawit. Harga minyak mentah dan minyak sayur cenderung saling terkait mengingat keduanya juga digunakan untuk pembuatan biodiesel.

Penurunan harga minyak mentah bisa membuat penggunaan biodiesel dari minyak sayur kurang kompetitif sehingga harga kedua jenis minyak ini cenderung bergerak searah. Di Bursa Komoditas Dalian harga kontrak minyak kedelainya ambles 2% sementara untuk minyak sawitnya turun 1%.

Sebenarnya minyak sawit sedang mendapat sentimen negatif. Sri Lanka memutuskan untuk memblokir impor minyak sawit dan pembukaan lahan baru untuk perkebunan kelapa sawit.

Sri Lanka sendiri mengimpor sekitar 200.000 ton minyak sawit setiap tahun, terutama dari Indonesia dan Malaysia. Jika dibandingkan dengan total ekspor kedua negara tersebut pangsa pasar Sri Lanka tergolong kecil sehingga tidak terlalu berdampak pada harga.

Mengacu pada data UN Comtrade ekspor minyak sawit dan turunannya baik yang diproses (refined) maupun tidak mencapai US$ 37 juta pada 2019.

Di tahun yang sama Indonesia memasok sekitar 42% dari total impor Sri Lanka yang hanya US$ 87,2 juta. Sementara total ekspor RI untuk komoditas dengan kode HS 1511 dua tahun silam mencapai US$ 14,7 miliar. Artinya pangsa ekspor Sri Lanka hanya 0,25%. Melihat angkanya jelas sangatlah kecil.

Indonesia lebih banyak mengekspor komoditas ini ke India dan China. Pada periode 2017-2019 RI mengekspor produk minyak sawit ke India rata-rata sebesar US$ 2,25 miliar sampai US$ 4,9 miliar.

Di saat yang sama RI mengekspor minyak sawit ke China sebesar US$ 2 miliar -US$ 2,5 miliar. Dari data ini saja jelas terlihat bahwa pangsa ekspor ke Sri Lanka tidak ada apa-apanya dibandingkan ke India dan China.

sumber : cnbcindonesia.com –  Solid Berjangka