Minyak Naik Karena Resiko Output Venezuela & Persediaan AS yang Terlihat Menurun – Solid Berjangka

Solid Berjangka ~ Minyak memperpanjang kenaikannya karena para investor menilai risiko penurunan lebih lanjut dalam produksi minyak mentah di Venezuela dan terkait stok AS yang terlihat merosot pada pekan ketiga.

Kontrak berjangka di New York menambahkan sebanyak 0,4 persen setelah Presiden Donald Trump memerintahkan larangan untuk membeli utang kepada pemerintah Venezuela atau perusahaan minyak milik negara Petroleos de Venezuela SA setelah Presiden negara itu Nicolas Maduro memenangkan pemilihan umum kembali. Sementara itu, persediaan minyak mentah AS kemungkinan turun 2 juta barel pada minggu lalu, menurut survei Bloomberg sebelum data pemerintah yang akan dirilis hari Rabu.

Minyak diperdagangkan mendekati yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir ditengah ketegangan geopolitik termasuk sanksi AS terhadap Iran dan produksi Venezuela yang jatuh dapat menimbulkan kekhawatiran atas pasokan. Badan Energi Internasional mengatakan mereka mengharapkan beberapa negara penghasil minyak terbesar untuk memenuhi segala kekurangan jika pengiriman dari Venezuela atau Iran menurun.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan Juni, yang berakhir hari Selasa, naik sebanyak 31 sen ke level $ 72,55 per barel di New York Mercantile Exchange dan diperdagangkan di level $ 72,48 pada pukul 8:58 pagi di Tokyo. Kontrak teraktif untuk bulan Juli naik sebanyak 19 sen menjadi $ 72,54. Total volume yang diperdagangkan adalah sekitar 40 persen di bawah rata-rata 100 hari.

Brent berjangka untuk pengiriman bulan Juli bertambah sebanyak 24 sen menjadi $ 79,46 per barel di bursa ICE Futures Europe yang berbasis di London. Kontrak pada hari Senin naik 0,9 persen menjadi $ 79,22. Minyak mentah acuan global diperdagangkan sebagai premi $ 6,84 untuk minyak WTI pada bulan yang sama. (knc)

Sumber : Bloomberg

source

Oil extended gains as investors assessed the risks of further declines in Venezuelan crude production and as U.S. stockpiles were seen falling a third week.

Futures in New York added as much as 0.4 percent after President Donald Trump ordered a prohibition on buying debt owed to the Venezuelan government or state-owned oil company Petroleos de Venezuela SA after the country’s President Nicolas Maduro won re-election. Meanwhile, U.S. crude inventories probably fell by 2 million barrels last week, according to a Bloomberg survey before government data due Wednesday.

Oil is trading near the highest in three years as geopolitical tensions including U.S. sanctions on Iran and plunging Venezuelan production raise concerns over supply. The International Energy Agency said it expects some of the biggest oil-producing nations to meet any shortfalls should shipments from Venezuela or Iran collapse.

West Texas Intermediate for June delivery, which expires Tuesday, climbed as much as 31 cents to $72.55 a barrel on the New York Mercantile Exchange and traded at $72.48 at 8:58 a.m. in Tokyo. The more-active July contract rose 19 cents to $72.54. Total volume traded was about 40 percent below the 100-day average.

Brent futures for July settlement added as much as 24 cents to $79.46 a barrel on the London-based ICE Futures Europe exchange. The contract on Monday gained 0.9 percent to $79.22. The global benchmark crude traded as a $6.84 premium to WTI for the same month.

Source : Bloomberg

 

 

Solid Berjangka