Minyak Perpanjang Rekor Penurunan Terkait Rencana Trump untuk Kurangi Produksi SaudiSolid Berjangka

Solid Berjangka ~ Minyak turun untuk hari ke-12 berturut-turut dalam penurunan beruntun terpanjang dalam rekornya setelah Presiden AS Donald Trump mengkritik rencana Arab Saudi untuk memangkas produksi.

Kontrak berjangka di New York turun sebanyak 1,8 persen, memperpanjang penurunan lebih dari 11 persen sejak 26 Oktober lalu. Harga “harus jauh lebih rendah berdasarkan pasokan!” Kata Trump dalam tweetnya, setelah Menteri Energi Saudi Khalid Al-Falih mengatakan produsen perlu memangkas sekitar 1 juta barel per hari dari tingkat produksi Oktober. Kerajaan itu mengumumkan rencana selama akhir pekan untuk mengurangi pengirimannya sekitar setengah dari jumlah itu pada bulan depan. Kemerosotan di pasar ekuitas AS dan dolar yang bergerak ke level 18 bulan tertinggi juga membebani harga minyak mentah.

Minyak merosot ke pasar bearish pada pekan lalu karena kekhawatiran melimpahnya pasokan semakin dalam pada keringanan AS untuk beberapa pembeli minyak Iran serta meningkatnya persediaan dan produksi menyentuh rekor di Amerika. Dengan perang perdagangan antara AS dan China memicu kekhawatiran atas pertumbuhan ekonomi global yang mendukung permintaan energi, investor mencari tanda-tanda apakah Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya akan membalikkan jalur dan memangkas produksi meskipun ada kecaman Trump.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember turun sebanyak $ 1,08 ke level $ 58,85 per barel di New York Mercantile Exchange dan diperdagangkan di level $ 59,09 pada pukul 11:29 pagi di Tokyo. Kontrak turun 26 sen menjadi $ 59,93 pada hari Senin, penutupan terendah sejak 13 Februari. Total volume yang diperdagangkan sedikit di bawah rata-rata 100-hari.

Brent berjangka untuk pengiriman Januari melemah 70 sen ke level $ 69,42 per barel di bursa ICE Futures Europe yang berbasis di London. Kontrak merosot 6 sen menjadi berakhir ke level $ 70,12 pada hari Senin, level terendah sejak 9 April lalu. Minyak mentah acuan global diperdagangkan pada premium $ 10,16 untuk WTI pada bulan yang sama. (knc)

Sumber : Bloomberg

source

Oil fell for a 12th consecutive day in its longest losing streak on record after U.S. President Donald Trump criticized Saudi Arabia’s plan to cut production.

Futures in New York fell as much as 1.8 percent, extending a drop of over 11 percent since Oct. 26. Prices “should be much lower based on supply!” Trump said in a tweet, after Saudi Energy Minister Khalid Al-Falih said producers need to cut about 1 million barrels a day from October production levels. The kingdom unveiled a plan over the weekend to reduce its shipments by about half of that amount next month. A slump in U.S. equity markets and the dollarrising to an 18-month high also weighed on crude prices.

Oil slumped into a bear market last week as fears of a supply glut deepened on U.S. waivers for some buyers of Iranian oil as well as rising inventories and record production in America. With a trade war between the U.S. and China stoking concerns over global economic growth that underpins energy demand, investors are looking for signs over whether the Organization of Petroleum Exporting Countries and its allies will reverse course and cut output despite Trump’s criticism.

West Texas Intermediate for December delivery declined as much as $1.08 to $58.85 a barrel on the New York Mercantile Exchange and traded at $59.09 at 11:29 a.m. in Tokyo. The contract fell 26 cents to $59.93 on Monday, the lowest close since Feb. 13. Total volume traded was slightly below the 100-day average.

Brent futures for January settlement fell 70 cents to $69.42 a barrel on the London-based ICE Futures Europe exchange. The contract dropped 6 cents to end at $70.12 on Monday, the lowest level since April 9. The global benchmark crude traded at a $10.16 premium to WTI for the same month.

Source : Bloomberg

 

Solid Berjangka