The Fed Bikin Harga Emas ‘Mendaki Gunung’, Waktunya Borong?Solid Berjangka

Solid Berjangka Semarang | Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau yang dikenal dengan Federal Reserve (The Fed) mengumumkan kebijakan moneter dini hari tadi, yang berdampak pada kenaikan harga emas dunia. Sebelum pengumuman tersebut, harga emas sebenarnya melemah 0,38%, tetapi kemudian berbalik menguat dan mengakhiri perdagangan di US$ 1.809,41/troy ons, menguat 0,45%. Harga emas Antam pun sudah naik 0,5% pada hari ini.

Penguatan emas dunia masih berlanjut pada Kamis (29/07/2021), pada pukul 17:13 WIB emas berada di US$ 1.822,74/troy ons, melesat 0,88%. Emas kini mulai “mendaki gunung”, tetapi bisakah mencapai puncak US$ 2.072/troy ons lagi?

Sesuai dengan perkiraan pasar, The Fed mempertahankan suku bunga sebesar 0,25%, dan program pembelian aset (quantitative easing/QE) senilai US$ 120 miliar.

Tetapi bukan itu yang ditunggu pelaku pasar, melainkan kapan The Fed akan melakukan tapering atau pengurangan nilai QE.

Tapering merupakan musuh utama emas. Berkaca dari sejarah, tapering pernah dilakukan pada tahun 2013 dan harga emas berada dalam tren menurun hingga awal 2015 ketika menyentuh level terendah US$ 1.045/troy ons. Selama periode tersebut harga emas dunia merosot sekitar 25%. Bahkan jika dilihat dari rekor tertinggi kala itu 1.920/troy ons pada 6 September 2011, harganya ambrol lebih dari 45%.

Namun, dini hari tadi, The Fed lagi-lagi belum memberikan detail kapan tapering akan dilakukan.

The Fed melihat perekonomian AS semakin kuat, tapi masih perlu melihat kemajuan substansial lebih lanjut, khususnya untuk pasar tenaga kerja dan inflasi, sebelum memulai tapering.

“Kami menggunakan pendekatan yang setransparan mungkin. Kita belum mencapai kemajuan substansial lebih lanjut,” kata ketua The Fed, Jerome Powell, sebagaimana dikutip CNBC International, Kamis (29/7/2021).

Sementara itu untuk pasar tenaga kerja, Powell mengatakan masih perlu lebih kuat lagi, sebelum memulai tapering.

“Saya ingin melihat pasar tenaga kerja lebih kuat lagi dalam beberapa bulan ke depan sebelum memulai mengurangi QE yang saat ini senilai US$ 120 miliar per bulan,” kata Powell.

Alhasil harga emas mulai menanjak, meski belum ada lonjakan yang besar.

Yang patut diingat, cepat atau lambat The Fed pasti akan melakukan tapering. Artinya, emas masih belum bisa lepas dari bayang-bayang musuhnya, sehingga untuk mencapai puncak atau rekor tertinggi sepanjang masa lagi US$ 12.072/troy ons yang disentuh pada 7 Agustus 2020 lalu sepertinya berat.

Data inflasi dan tenaga kerja AS kini akan menentukan seberapa besar tenaga emas untuk terus “mendaki gunung”.

Inflasi sebenarnya memberikan efek positif dan negatif bagi emas. Ketika inflasi AS tinggi, yang memang terjadi saat ini, maka daya tarik emas akan meningkat. Sebab emas secara tradisional dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi.

Tetapi sebaliknya, ketika inflasi tinggi terjadi secara berkelanjutnya, akan mendorong The Fed untuk melakukan tapering. Itu akan menjadi sentimen negatif bagi emas.
Sehingga, kenaikan inflasi sebenarnya “fifty-fifty” bagi pergerakan emas.

Pasar tenaga kerja bisa memberikan dampak yang lebih terarah, Ketika pasar tenaga kerja memburuk, maka tapering kemungkinan akan ditunda, dan menguntungkan bagi emas, dan visca versa.

Oleh karena itu, investor maupun trader emas perlu benar-benar mencermati data inflasi dan tenaga kerja AS.

The Fed sendiri menyatakan akan mengamati data tenaga kerja dalam ‘beberapa bulan ke depan’ sebelum melakukan tapering. Artinya, tidak akan ada tapering dalam beberapa bulan ke depan, bahkan mungkin di sisa tahun ini tahun ini.

Sebelumnya, banyak analis dan ekonom yakin The Fed akan mengumumkan lebih banyak mengenai tapering pada pertemuan tahunan Jackson Hole Agustus mendatang. Sebab pada pertemuan tersebut akan dihadiri oleh bank sentral, menteri keuangan, ekonom, hingga praktisi dari seluruh dunia.

“Saya pikir Powell membuat proyeksi pelaku pasar bergeser lagi. Jika anda melihat The Fed akan mengumumkan tapering pada pertemuan Jackson Hole, pernyataan The Fed hari ini menunjukkan kemungkinan tersebut sangat kecil,” kata Michelle Meyer, kepala ekonom Bank of America, sebagaimana dilansir CNBC International.

“Dan dengan mengatakan ‘pada pertemuan-pertemuan’ mendatang, The Fed jadi memiliki banyak pilihan kapan mereka akan memberikan sinyal atau mengumumkan tapering,” tambahnya.

Meyer sendiri memprediksi The Fed akan mengumumkan rencana tapering di akhir tahun ini, tetapi tidak menutup kemungkinan di bulan September. Dan tapering resmi dimulai di awal tahun depan.

“Saya pikir The Fed masih mungkin mengumumkan rencana tapering di bulan September, tergantung dari data tenaga kerja. Jika sangat kuat, maka saya pikir Powell akan memberikan lebih banyak detail pada bulan September,” kata Meyer.

sumber : cnbcindonesia.com – Solid Berjangka