Ada Aksi Bargain Hunting, Harga Emas Jadi ‘Manggung’ Lagi | Solid Gold Berjangka

Solid Gold Berjangka Semarang | Harga emas dunia mulai bergerak naik setelah ambles tajam karena dipicu Harga Emas Dunia (US$/Troy Ons) oleh proyeksi ekonomi AS yang lebih baik dan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter di masa mendatang oleh The Fed.

Harga emas sempat turun US$ 100 atau setara dengan 6%. Kejatuhan harga emas yang signifikan membuat harga si logam kuning secara psikologis menjadi lebih murah dan memicu aksi bargain hunting.

Koreksi harga yang dimanfaatkan untuk aksi borong emas membuat harganya merangkak naik. Selasa (22/6/2021), harga emas dunia di pasar spot lanjut menguat 0,12% ke US$ 1.785/troy ons. Di saat yang sama indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap mata uang lain juga mengalami penurunan.

Sebelum pengumuman The Fed emas sudah berada di area jenuh beli (overbought). Di saat yang sama dolar AS juga sudah berada di area jenuh jual (oversold), sehingga wajar saja jika dolar rebound dan harga emas mengalami koreksi.

Memang terjadi panic selling di pasar minggu lalu. Namun apakah harga emas sudah mencapai bottom sehingga saatnya untuk beli?

Analis melihat bahwa koreksi tajam menjadi daya tarik bagi investor untuk memborong si logam kuning. Alasannya adalah The Fed lewat pendekatan barunya akan membiarkan inflasi mengalami overshoot dalam jangka pendek.

Emas sebagai aset untuk inflation hedge jelas diuntungkan dari kebijakan tersebut dalam jangka pendek. Menurut Colin Cieszynski selaku chief market strategist di SIA Wealth Management, harga emas masih akan berpotensi turun lagi. Namun jika harga menyentuh US$ 1.700, maka di saat itulah banyak investor yang tertarik membeli emas.

The Fed memproyeksikan perekonomian AS bisa tumbuh 7% tahun ini. Inflasi bakal mencapai 3,4% dan angka pengangguran 4,5%.

Menariknya lagi, anggota komite pengambil kebijakan The Fed memproyeksikan bakal ada kenaikan suku bunga acuan (Federal Funds Rate/FFR) di tahun 2023 sebesar 50 basis poin (bps) atau setara dengan dua kali kenaikan.

Proyeksi tersebut menjadi indikator bahwa The Fed cenderung menjadi lebih hawkish, meskipun dalam berbagai kesempatan sang bos Jerome Powell menegaskan kebijakan akomodatif masih akan dilanjutkan.

Melihat kemungkinan suku bunga yang naik di masa mendatang, tak menutup peluang juga bahwa tapering akan dilakukan terlebih dahulu. Inilah yang membuat pasar bereaksi negatif dengan pengumuman tersebut karena ketika pengetatan moneter terjadi maka biaya peluang memegang aset tak berimbal hasil seperti emas menjadi meningkat.

sumber: cnbcindonesia.com – Solid Gold Berjangka