Dunia Terancam Lockdown, Harga Emas Ikutan Down | Solid Gold Berjangka

Solid Gold Berjangka Semarang | Harga emas dunia turun tipis pada perdagangan pagi ini. Keperkasaan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) membatasi ruang gerak kenaikan harga emas.

Pada Rabu (21/7/2021) pukul 07:31 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.080,84/troy ons. Turun tipis 0,07% dari hari sebelumnya.

Penguatan nilai tukar dolar AS membuat emas tidak berdaya. Pada pukul 07:32 WIB, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,1%. Berada di 92,96, indeks ini menyentuh titik terkuat dalam tiga bulan terakhir.

Pelaku pasar (dan seluru dunia) kembali dibuat khawatir oleh pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19). Kemunculan virus corona varian delta yang lebih menular membuat angka kasus positif menanjak.

Per 20 Juli 2021, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat pasien positif corona di seluruh negara berjumlah 190.671.330 orang. Bertambah 390.026 orang dari hari sebelumnya.

Dalam 14 hari terakhir, rata-rata pasien positif bertambah 478.864 orang setiap harinya. Melonjak dibandingkan rerata 14 hari sebelumnya yakni 386.811 orang per hari.

“Investor tidak berani berspekulasi. Ini menjadi pendorong penguatan dolar AS,” ujar Karl Schamotta, Chief Market Strategist di Cambridge Global Payments yang berkedudukan di Toronto (Kanada), seperti dikutip dari Reuters.

Saat situasi menjadi sangat tidak pasti, saat dunia kembali dibayangi ancaman karantina wilayah alias lockdown, maka bermain aman adalah pilihan yang sangat wajar. Bahkan ada tendensi investor bermain sangat aman yaitu dengan memegang uang tunai.

Bukan sekadar uang tunai, dolar AS yang menjadi pilihan utama. Sebab, dolar AS adalah mata uang global yang bisa menyelesaikan segala urusan di mana saja, kapan saja.

“Penguatan dolar AS yang berstatus sebagai aset aman (safe haven) adalah hal yang wajar. Kini prospek pertumbuhan ekonomi dunia menjadi penuh tanda tanya,” kata Juan Perez, FX Strategist di Tempus Inc yang berbasis di Washington, seperti diberitakan dari Reuters.

Emas dan dolar AS punya hubungan berbanding terbalik. Ini karena emas adalah komoditas yang dibanderol dengan mata uang Negeri Paman Sam.

Saat dolar AS menguat, maka emas menjadi lebih mahal buat investor yang memegang mata uang lain. Permintaan emas turun, harga pun akan mengikuti.

Franky Nangoy, Senior Market Strategist Fullerton Research, memperkirakan harga sang logam mulia akan bergerak turun pada pekan ini. Titik support emas akan berada di US$ 1.794/troy ons.

“Harga emas bergerak lebih rendah setelah gagal menembus resistance di US$ 1.834/troy ons. Selanjutnya, kita dapat melihat bahwa stochastic sedang berbalik bearish yang berarti bahwa emas telah overbought dan kemungkinan akan retracing,” papar Franky dalam risetnya.

Ketika titik support US$ 1.794/troy ons tertembus, lanjut Franky, maka harga emas kemungkinan bisa turun lebih dalam. Level support berikutnya berada di rentang US$ 1.783-1.760/troy ons.

Namun bukan berarti ruang untuk naik sudah tertutup. Franky memperkirakan titik resistance akan berada di US$ 1.818/troy ons. Jika ini tertembus, maka harga akan bergerak ke rentang US$ 1.834-1.844/troy ons dan bahkan menuju US$ 1.855.troy ons.

Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, juga memperkirakan hal yang sama. Menurutnya, saat harga emas gagal menembus titik resistance di US$ 1.833/troy ons, maka ada risiko menuju ke level support di US$ 1.813-1.789/troy ons.

“Momentum bullish sepertinya lemah, karena harga berkali-kali gagal menembus titik resistance di US$ 1.833/troy ons. Oleh karena itu, target terdekat saat ini ada di US$ 1.781-1.801/troy ons,” sebut Wang dalam risetnya.

Wang melanjutkan, titik resistance baru ada di US$ 1.821/troy ons, yang jika tertembus akan kembali mencoba ke US$ 1.833/troy ons. Namun jika titik itu kembali gagal tertembus, maka rasanya harga emas akan mengalami konsolidasi dalam beberapa hari ke depan.

sumber: cnbcindonesia.com – Solid Gold Berjangka