Solid Gold Berjangka | Muncul Pola Shooting Star, Rupiah Siap Hajar Balik Dolar AS

Solid Gold Berjangka

Muncul Pola Shooting Star, Rupiah Siap Hajar Balik Dolar AS | Solid Gold Berjangka

Solid Gold Berjangka Semarang | Nilai tukar rupiah melemah 0,21% melawan dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp 14.380/US$ pada perdagangan Selasa kemarin. Rupiah kini sudah melemah 4 hari beruntun dan berada di level terlemah dalam 4 bulan terakhir.

Sentimen pelaku pasar yang kurang bagus, serta kenaikan yield obligasi (Treasury) AS memicu capital outflow yang membuat rupiah tertekan.

Di pasar saham, data pasar menunjukkan investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 740 miliar. Sementara awal pekan kemarin net sell tercatat Rp 414 miliar. Artinya dalam 2 hari terjadi capital outflow lebih dari 1,1 triliun.

Selain itu, capital outflow kemungkinan besar juga terjadi di pasar obligasi, sebab yield Surat Berharga Negara (SBN) melesat naik. Yield SBN tenor 10 tahun hari ini naik 6 basis poin ke 6,817%, kemarin juga naik 13,2 basis poin.

Pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi, saat yield naik artinya harga sedang turun, begitu juga sebaliknya. Ketika harga sedang turun, artinya sedang terjadi aksi jual, yang bisa menjadi indikasi capital outflow.

Sementara pada perdagangan hari ini, Rabu (10/3/2021), rupiah berpeluang bangkit melihat sentimen pelaku pasar yang membaik, tercermin dari penguatan bursa Eropa dan AS Selasa waktu setempat, dan bursa Asia yang sudah dibuka pagi ini.

Secara teknikal, rupiah kini berada di atas rerata pergerakan (moving average/MA) 200, sebelumnya juga sudah melewati MA 50 (garis hijau), dan MA 100 (garis oranye). Artinya rupiah kini bergerak di atas 3 MA sehingga tekanan menjadi semakin besar.

Meski demikian, Selasa (9/3/2021) rupiah yang disimbolkan USD/IDR membentuk pola Shooting Star. Pola ini merupakan sinyal pembalikan arah, artinya USD/IDR berpotensi bergerak turun dengan kata lain rupiah berpeluang menguat.

Potensi penguatan rupiah diperbesar oleh indikator stochastic berada di wilayah jenuh beli (overbought).

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Stochastic yang sudah berada di wilayah overbought dalam waktu yang cukup lama membuka ruang bangkitnya rupiah.

Resisten masih berada di kisaran kini berada di kisaran Rp 14.400 – 14.425/US$. Selama tertahan di bawahnya, rupiah berpeluang menguat ke support yang berada di kisaran Rp 14.300 – 14.280/US$ (kisaran MA 200). Hanya penembusan di di bawah level tersebut yang dapat mengurangi tekanan bagi rupiah, dan membuka peluang bangkit lebih jauh.

Sementara jika resisten ditembus, maka rupiah berisiko jeblok menuju Rp 14.500/US$.

sumber: cnbcindonesia.com – Solid Gold Berjangka