Pt. Solid Gold Berjangka ~ Bursa saham Asia dibuka menguat, menyusul reli di pasar saham global, di tengah optimisme bahwa para pembuat kebijakan akan memperkenalkan langkah-langkah untuk membatasi kejatuhan ekonomi akibat kkelluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Indeks MSCI Asia Pacific naik 1 persen menjadi 126,64 pada pukul 09:03 pagi di Tokyo. Indeks ekuitas global menguat dalam seminggu karena investor melihat tanda-tanda bahwa bank sentral dan pemerintah akan membantu meringankan gejolak pasar pasca Brexit. Gubernur Federal Reserve Jerome Powell mengatakan risiko global telah bergeser lebih jauh ke bawah setelah pemungutan suara Inggris untuk keluar dari Uni Eropa, memberikan ketidakpastian baru yang mungkin pantas untuk menilai kembali kebijakan moneter.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada hari Rabu mengatakan bahwa dia akan mengerahkan semua tindakan yang memungkinkan, sementara Korea Selatan pada hari Selasa mengusulkan paket stimulus fiskal. Investor menunggu rincian tentang rencana Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa di tengah kekhawatiran bahwa langkah tersebut bisa mengganggu pemulihan ekonomi global.(Solid Gold)

Sumber: Bloomberg

source

Asian stocks rose, following a rally in global equities, amid optimism that policy makers will introduce measures to limit the economic fallout from U.K. leaving the European Union.

The MSCI Asia Pacific Index advanced 1 percent to 126.64 as of 9:03 a.m. in Tokyo. A gauge of global equities climbed by most in a week as investors watched for signs that central banks and governments will help ease the post-Brexit market turmoil. Federal Reserve Governor Jerome Powell said global risks have shifted further to the downside after Britain�s vote to exit the EU, introducing new uncertainties that may merit reassessing monetary policy.

Japan�s Prime Minister Shinzo Abe said Wednesday he will mobilize all possible measures, while South Korea on Tuesday proposed a package of fiscal stimulus. Investors are awaiting details on the U.K.�s plan to leave the European Union amid concern the move could disrupt the global economic recovery.

Source: Bloomberg