Giliran Dolar AS Dibanting Emas, Serius Mau Nonton Aja? – Solid Gold

Solid Gold Semarang | Setelah dua bulan merasakan pahitnya ditinggal investor dan harganya jatuh ke bawah US$ 1.800/troy ons, kini emas mulai naik pamor lagi. Alasan klasik banyak yang mulai melirik emas lagi adalah adanya ekspektasi inflasi yang tinggi.

Awal Mei merupakan awal yang bagus untuk emas. Si logam kuning kembali tembus US$ 1.800/troy ons pada Kamis minggu ini. Pada perdagangan terakhir semalam, harga emas ditutup melesat 0,84% dan membuatnya menyentuh level US$ 1.830/troy ons yang merupakan posisinya dalam hampir 3 bulan terakhir.

Emas berhasil naik 3,5% sepanjang minggu ini. Dolar AS sebagai musuh utama emas jatuh di saat yang sama. Indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekelompok mata uang lain melemah 1% pekan ini.

Sekarang emas menjadi semakin punya tenaga untuk lanjut reli. Dilihat dari aspek teknikal, harga emas sudah melampaui rata-rata harga 50 harian (MA50) dan 100 hariannya (MA100).

Kini emas hanya terpaut US$ 20 terhadap rata-rata pergerakan harganya dalam periode panjang yaitu 200 harian (MA200). Selama ini level US$ 1.800 menjadi level resisten kuat.

Beberapa kali emas mencoba menjajal menyentuh level tersebut tetapi gagal. Baru kali ini emas berhasil melesat ke atas US$ 1.800/troy ons. Selain aspek teknikal ada juga sentimen yang membuat harga emas reli.

Sentimen tersebut berasal dari prospek dolar AS. Poling yang dilakukan oleh Reuters terhadap ahli strategi valas menunjukkan bahwa mayoritas dari mereka meramal dolar AS masih bisa jatuh lagi tiga bulan ke depan.

Di sisi lain vaksinasi yang kian ekspansif di negara-negara barat membuat AS dan Eropa perlahan membuka kembali perekonomiannya. Mobilitas publik yang berangsur membaik di tengah kondisi likuiditas yang berlimpah membuat banyak pihak mulai berpikir inflasi akan datang.

Kalau dilihat-lihat negara-negara anggota G20 juga sudah mulai menunjukkan adanya kenaikan inflasi. Hal ini terlihat jelas bahwa 16 dari 18 negara anggota G20 mencatatkan kenaikan inflasi pada Maret tahun ini dibanding akhir tahun lalu.

Walaupun banyak juga investor yang berlari ke cryptocurrency sebagai salah satu alternatif store of wealth, tetapi aset digital seperti Bitcoin cs masihlah sangat baru jika dibandingkan dengan emas yang sudah teruji berabad-abad lamanya.

Pasokan yang cenderung stabil dan nilai historisnya membuat emas dijadikan aset untuk lindung nilai meskipun tidak memberikan imbal hasil apapun. Kombinasi aspek teknikal, sentimen dan fundamental ini membuat analis dan investor kompak meramal harga emas bakal bullish minggu depan.

Survei yang dilakukan oleh Kitco News terhadap 16 analis Wall Street menunjukkan bahwa 88% di antaranya meyakini harga emas bisa naik minggu depan. Sementara itu poling yang digalang dengan target responden investor ritel oleh Kitco menunjukkan bahwa persepsi bullish terhadap emas minggu depan juga tak terlalu jauh.

Well, itulah 3 amunisi utama untuk menguat minggu ini dan dalam beberapa waktu ke depan. Jadi kali ini giliran emas yang berpesta bukan dolar AS.

sumber: cnbcindonesia.com – Solid Gold