Harga Emas Dunia Anjlok 6% Sepekan, Sudah Saatnya Serok nih? – Solid Gold

Solid Gold Semarang | Minggu lalu menjadi momen terburuk emas sejak pasar keuangan global anjlok di bulan Maret tahun 2020. Harga emas ambles 6% dalam seminggu setelah bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserves (The Fed) menyampaikan proyeksi ekonomi Negeri Paman Sam yang lebih baik.

Harga emas di pasar spot jatuh lebih dari US$ 100 hanya dalam kurun waktu 5 hari perdagangan saja. The Fed memproyeksikan perekonomian AS bisa tumbuh 7% tahun ini. Inflasi bakal mencapai 3,4% dan angka pengangguran 4,5%.

Menariknya lagi, anggota komite pengambil kebijakan The Fed memproyeksikan bakal ada kenaikan suku bunga acuan (Federal Funds Rate/FFR) di tahun 2023 sebesar 50 basis poin (bps) atau setara dengan dua kali kenaikan.

Proyeksi tersebut menjadi indikator bahwa The Fed cenderung menjadi lebih hawkish, meskipun dalam berbagai kesempatan sang bos Jerome Powell menegaskan kebijakan akomodatif masih akan dilanjutkan.

Melihat kemungkinan suku bunga yang naik di masa mendatang, tak menutup peluang juga bahwa tapering akan dilakukan terlebih dahulu. Pada akhirnya tone pengetatan moneter inilah yang membuat harga emas rontok.

Mengawali perdagangan perdana pekan ini, Senin (21/6/2021), harga emas dunia mencoba bangkit. Di arena pasar spot harga emas naik 0,7% ke US$ 1.776/troy ons. Namun di minggu ini sebenarnya sentimen terhadap emas masih tak terlalu bagus.

Banyak analis Wall Street yang memperkirakan tekanan terhadap emas masih akan berlanjut. Maka dari itu investor sebaiknya juga wait and see. Secara teknikal emas sedang tidak diuntungkan.

Sebelum pengumuman The Fed emas sudah berada di area jenuh beli (overbought). Di saat yang sama dolar AS juga sudah berada di area jenuh jual (oversold), sehingga wajar saja jika dolar rebound dan harga emas mengalami koreksi.

Memang terjadi panic selling di pasar minggu lalu. Namun apakah harga emas sudah mencapai bottom sehingga saatnya untuk beli?

Analis melihat bahwa koreksi tajam menjadi daya tarik bagi investor untuk memborong si logam kuning. Alasannya adalah The Fed lewat pendekatan barunya akan membiarkan inflasi mengalami overshoot dalam jangka pendek.

Emas sebagai aset untuk inflation hedge jelas diuntungkan dari kebijakan tersebut dalam jangka pendek. Menurut Colin Cieszynski selaku chief market strategist di SIA Wealth Management, harga emas masih akan berpotensi turun lagi. Namun jika harga menyentuh US$ 1.700, maka di saat itulah banyak investor yang tertarik membeli emas.

sumber: cnbcindonesia.com – Solid Gold