Solid Gold

Harga Emas Masih Terus Cetak Rekor, Pertimbangkan Ini Sebelum Beli – Solid Gold

Solid Gold Semarang | Harga emas Antam terus menanjak beberapa waktu belakangan dan tembus rekor sejalan dengan pandemi Corona. Pekan lalu, harga emas sempat menembus angka Rp 1.065.000 per gram. Sejumlah analis memperkirakan harga emas masih bisa meningkat lagi alias tembus rekor.

Analis Emas Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan, peluang harga emas terus naik masih ada. Faktor yang menunjang kenaikan harga emas satunya karena penyebaran COVID-19 yang masih tinggi sehingga menyebabkan gangguan ekonomi global.

“Peluang kenaikan harga emas masih ada karena faktor-faktor pendukung kenaikan masih belum hilang seperti penyebaran COVID-19 yang masih meninggi yang menyebabkan gangguan pemulihan ekonomi global,” katanya kepada detikcom, Minggu kemarin (9/8/2020).

Hal itu ditambah dengan hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan China yang memanas. Serta, ditambah dengan program pelonggaran moneter dan stimulus pemerintah yang memberikan likuiditas ke pasar untuk membeli emas.

“Mungkin masih terbuka peluang ke area Rp 1.120.000 juta per gram, itu dengan acuan harga emas di kisaran US$ 2.100 per troy ounce dan US$ Rp 15.000,” terangnya.

Hal senada diungkapkan analis sekaligus Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi. Dia mengatakan, emas punya peluang menguat ke US$ 2.080 per troy ounce. Dengan asumsi dolar Rp 14.800, harga emas Antam diperkirakan tembus Rp 1.090.000 per gram.

“Anggaplah kita menggunakan (kurs) Rp 14.800. Kalau harga emas menyentuh level tertinggi US$ 2.080 per troy ounce dibagi 31,1 sama dengan 66,88 dikalikan rupiah Rp 14.800, sama dengan Rp 989.800 ditambah ongkos Rp 100.000 sama dengan Rp 1.090.000 per gram,” paparnya.

Meski begitu, ia memperkirakan harga emas akan terkoreksi pada awal pekan ini. Sejumlah faktor yang mempengaruhi antara lain, perbaikan data ketenagakerjaan yang membaik dan simpang siur stimulus tunjangan ketenagakerjaan di AS.

“Bisa terjadi dalam perdagangan hari Senin harga emas ini bisa kembali terkoreksi karena masih adanya simpang siur kebijakan yang dilakukan Trump dengan senat AS,” terangnya.

Ibrahim Assuaibi melanjutkan, harga emas saat ini memang terlalu tinggi. Dia bilang, berdasarkan survei yang ia lakukan pada beberapa calon investor menunjukkan jika mereka cenderung akan melepas emas sehingga mendapat untung.

“Karena bersamaan dengan COVID, ekonomi tidak menentu, mereka mendapatkan uang kas cukup besar sehingga uang tersebut bisa digunakan jaminan hidup,” katanya.

Menurutnya, bagi masyarakat yang gemar investasi emas sebaiknya menunggu harga emas turun. “Kalau bisa menunggu harga logam mulia itu di bawah di angka Rp 800 ribuan. Tapi kalau seandainya internasional apabila menyentuh kembali di level US$ 1.700 per troy ounce,” ujarnya.

Dia menjelaskan, emas sendiri merupakan investasi jangka panjang. Dia menuturkan, pada tahun 2011 emas sempat mencapai US$ 1.920 per troy ounce setelah itu terkoreksi dalam dan baru kembali tertembus level tersebut setelah 9 tahun. Dengan demikian, ia meminta masyarakat agar hati-hati di saat emas telah mencapai level tertinggi.

“Artinya untuk mencapai level tertinggi harga emas memerlukan waktu cukup lama kalau saat ini relatif lebih tinggi itu sangat wajar, itu 9 tahun penantian di mana harga emas kembali mengalami kenaikan itu pun bersama pandemi virus Corona,” terangnya.

“Harus berhati-hati para masyarakat, investor yang suka mengoleksi logam mulia terutama fisik kalau mau cuan lebih banyak bermainlah di hedging, yaitu saham atau derivatif karena di situlah keuntungan jangka pendek,” sambungnya.

Sementara, Analis Emas Monex Investindo Ariston Tjendra menuturkan, dalam kondisi seperti investor bisa melepas sebagian emas untuk mendapat untung dan sebagian di tahan.

“Investor yang sudah memiliki emas mungkin bisa melepas sebagian untuk mengamankan profit. Sebagian ditahan untuk mengikuti potensi penguatan harga emas selanjutnya,” ungkapnya.

sumber: detik.com – Solid Gold