solid gold ~ Ini Waktu Terbaik Tes Pendengaran Bayi Baru Lahir

solid gold ~ JAKARTA – Gangguan pendengaran pada bayi dan anak bisa menyebabkan gangguan bicara, berbahasa, kognitif, masalah sosial, dan emosional. Sayangnya gangguan pendengaran sulit diketahui sejak awal.

Untuk mencegah terjadinya ketulian, dokter spesialis THT Rumah Sakit Evasari Awalbros Dr Muhammad Ikhwan Sp THT-KL menyarankan untuk melakukan skrining pendengaran neonatus sebelum usia tiga bulan dan intervansi dilakukan sebelum usia enam bulan.

“Untuk itu pentingnya skrining pendengaran pada bayi baru lahir untuk deteksi dini adanya ketulian agar dapat dilakukan habilitasi atau intervensi segera sehingga dampak cacat pendengaran bisa diminimalisir,” kata Dr Muhammad kepada Sindonews di Jakarta.

Periode kritis perkembangan pendengaran dan berbicara dimulai dalam enam bulan pertama kehidupan dan terus berlanjut sampai usia dua tahun. Sementara, skrining pendengaran tidak sama dengan diagnostik gangguan pendengaran.

“Skrining hanya menunjukkan ada atau tidaknya respon terhadap rangsangan dengan intensitas tertentu pada pendengaran seseorang dan tidak mengukur derajat gangguan pendengaran,” jelasnya.

Sedangkan skrining pendengaran pada bayi baru lahir sebaiknya dilakukan setelah lahir atau paling lambat satu bulan setelah kelahiran. Nantinya, hasil skrining pendengaran bisa dijadikan pemeriksaan lanjutan untuk diagnosis gangguan pendengaran pada bayi umur tiga bulan. (solid gold)

Mendidik anak bukanlah hal mudah. Selain pendidikan formal di sekolah, anak-anak memerlukan pendidikan nonformal, baik di keluarga ataupun lingkungan. Jadi penting bagi orangtua untuk mengajak anak mencari pengalaman sehingga mereka lebih mengerti bagaimana cara beradaptasi dengan situasi dan orang-orang disekitarnya.

“Jadi kalau anak kurang pengalaman itu biasanya kalau ada hal baru, dia nggak tahu harus ngapain. Biasanya dia bingung harus bersikap dan bingung untuk menentukan apa yang harus dilakukan. Misalnya dia bertemu dengan orang-orang baru,” kata Psikolog Anak Efnie Indrianie.

“Nah, kalau anak yang banyak pengalaman biasanya mereka akan lebih percaya diri (PD), mereka akan eksplor, berkenalan dengan orang baru sehingga mudah beradaptasi dengan situasi apapun yang dihadapi,” tambahnya.

Sebenarnya ada anak-anak yang termasuk dalam kategori anak sensitif yang cenderung kurang percaya diri. Namun semua tergantung dari cara orangtua mendidik anak. Jika anak tersebut dididik dengan baik dan pengalaman yang cukup, seiring berjalannya waktu mereka akan mudah untuk beradaptasi.

“Jadi sebenarnya memang ada kategori anak sensitif, dalam arti mereka kurang PD. Tapi kembali lagi, kalau orangtua memberikan pengalaman yang cukup, mereka punya kesempatan untuk eksplor lingkungan, meskipun butuh waktu tapi nantinya mereka akan bisa dengan mudah beradaptasi dengan situasi apa saja,” pungkasnya.

sumber sindu

solid gold