Solid Gold

Pak Luhut, Ekspor Benih Lobster Disarankan Setop Total Saja – Solid Gold

Solid Gold Semarang | Kebijakan ekspor benih lobster atau benur telah menyeret Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo dalam status tersangka. Kebijakan tersebut saat ini dihentikan sementara dan dievaluasi. Sejumlah pakar menilai, lebih baik kebijakan ini disetop total. Salah satu sebabnya karena hanya menguntungkan negara tetangga.

Pengamat Perikanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Suhana menilai kebijakan itu lebih baik dihentikan secara permanen. Pasalnya, kebijakan tersebut dinilai hanya menguntungkan Vietnam.

“Menurut saya baiknya di setop permanen ekspor benih lobster karena secara bisnis hanya akan menguntungkan Vietnam. Perlu diingat bahwa Vietnam merupakan negara pesaing Indonesia dalam pasar lobster konsumsi di pasar internasional,” kata Suhana kepada detikcom, Minggu (29/11/2020).

Sejak Indonesia membuka keran ekspor benih lobster, menurutnya, Vietnam semakin menguasai pasar lobster internasional. Padahal, pasokan benih lobster berasal dari Indonesia.

“KKP perlu belajar dari kebijakan 5 tahun terakhir, bahwa ketika benih lobster dilarang ekspor, nilai ekspor Indonesia naik sangat tinggi dan Vietnam justru kebalikannya, nilai ekspornya terus menurun. Tapi sekarang sangat menyedihkan, Vietnam semakin kuasai pasar lobster Internasional karena pasokan benih dari Indonesia,” ujarnya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan, Abdul Halim. Dia minta ekspor benih lobster disetop karena dinilai merugikan kepentingan nasional dan menghilangkan manfaat ekonomi-sosial dalam jangka panjang.

Abdul meminta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengevaluasi total kebijakan tersebut dengan menyetop ekspor benih lobster dan menggantinya dengan pemanfaatan sumber daya lobster kepada nelayan dalam negeri.

“Kami kembali mengingatkan dan mendesak kepada KKP untuk mengevaluasi total kebijakan ekspor benih lobster dengan memprioritaskan pemanfaatan sumber daya lobster untuk kepentingan dalam negeri saja yakni usaha pembesaran dalam rangka memberikan kemakmuran bagi masyarakat pembudidaya lobster dan nelayan dalam negeri,” ujarnya.

Abdul Halim kemudian menyayangkan pernyataan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan yang menyebut bahwa aturan ekspor benih lobster tidak salah.

Abdul mengaku miris dan sedih mengetahui pernyataan tersebut terlontar dari Luhut yang juga selaku Menteri Kelautan dan Perikanan ad Interim menggantikan Edhy Prabowo.

“Saya cukup miris mendengar pernyataan Pak Luhut, beliau menyatakan ekspor benih lobster tidak ada masalah, tetap bisa jalan hanya sekarang dievaluasi dan dihentikan terlebih dahulu. Saya cukup miris dan sedih karena beliau mengabaikan semua fakta yang dikhawatirkan oleh publik terutama yang ditemukan oleh KPK dan KPPU dengan persaingan usaha tidak sehatnya,” kata Abdul.

Abdul mengatakan pemerintah harus menghentikan ekspor benih lobster secara total. Dia berharap, ekspor dilakukan untuk lobster yang sudah besar.

“(Boleh diekspor) ukurannya harus sudah di atas 150 gram atau 200 gram, bukan diekspor dalam bentuk benur lobsternya. Benur lobsternya juga diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri, dalam rangka usaha pembesaran maupun pembenihan,” ucapnya.

Sementara, Suhana juga meminta agar Luhut mempertimbangkan pernyataan dari Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) dan Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah yang tidak setuju dengan dibukanya keran ekspor benih lobster. Pasalnya, mereka menilai kebijakan tersebut tak sesuai dengan ajaran Islam karena memanfaatkan kekayaan alam tanpa memberi kesejahteraan masyarakat.

“Pak Luhut perlu melihat data secara baik dan benar, supaya tidak terpengaruh oleh opini para ekspotir yang terbukti telah melanggar aturan. Rekomendasi PBNU dan PP Muhammadiyah juga perlu dipertimbangkan oleh Pak Luhut,” tuturnya.

Jika mau ekspor benih lobster, kata Suhana, KKP harus mengembangkan hatchery (tempat penetasan) lobster terlebih dahulu, agar benihnya tidak tergantung pada alam seperti saat ini.

“Ingat bahwa Indonesia punya pengalaman kehilangan benih bandeng di alam pada tahun 1970-an karena dieksploitasi sejak benihnya dan distop ekspor benih bandeng sampai 1980-an. Alhamdulilah benih Bandeng sekarang sudah disuplai dari hatchery, jadi tidak tergantung pasokan alam lagi,” jelasnya.

sumber: detik.com – Solid Gold