Sempat Ambles 1%, Harga Emas Masih Berkilau Sepekan – Solid Gold

Solid Gold Semarang | Kendati anjlok dalam pada perdagangan Jumat (16/7) kemarin, pergerakan harga emas dunia selama sepekan masih berkilau.

Pada awal pekan, Senin (12/7), harga dunia emas di pasar spot turun 0,12% di tengah minim dinamika lantara investor investor yang menantikan akan beberapa agenda penting, seperti dimulainya musim laporan keuangan (earnings season) di bursa saham Amerika Serikat (AS) dan paparan Ketua Bank Sentral AS alias The Fed Jerome Powell di hadapan Kongres pada Rabu Waktu Indonesia.

Setelah melemah pada Senin, harga emas dunia mencatatkan penguatan selama 3 hari beruntun. Pada Rabu (14/7), misalnya, harga emas melesat 1,08% ke US$ 1.827.09/troy ons.

Adapun pada Jumat (16/7), setelah sempat naik pada awal pembukaan, harga emas dunia akhirnya ambles 1% ke US$ 1.810,89/troy ons. Namun, dalam sepekan emas masih naik 0,16%.

Kendati melemah kemarin, kabar baiknya, inflasi yang tinggi di Amerika Serikat (AS), serta suku bunga rendah membuat emas dunia diprediksi akan kembali ke US$ 1.900/troy ons dalam beberapa bulan ke depan oleh Michael Matousek, kepala trader di US Global Investor.

“Kita masih melihat inflasi yang tinggi dan hal tersebut terlihat tidak berlangsung sementara seperti yang dipikirkan banyak orang,” kata Matousek, sebagaimana dilansir CNBC International, Kamis (15/7).

Dari harga penutupan perdagangan kemarin, hingga ke US$ 1.900/US$, artinya harga emas dunia diprediksi akan naik hingga 4,92% lagi dalam beberapa bulan ke depan.

Sementara, pada Jumat dini hari waktu Indonesia, Powell memberi paparan di hadapan Komite Perbankan Senat. Powell kembali menegaskan bahwa tekanan inflasi yang dialami Negeri Paman Sam hanya sementara, konsekuensi dari pemulihan ekonomi setelah terpaan pandemi virus corona (Covid-19).

“Kita sedang mengalami kebangkitan. Siang dan malam kami berpikir, apakah kami sudah melakukan kebijakan yang tepat? Namun secara umum, melihat harga yang naik salah satunya adalah mobil bekas, maka ceritanya adalah (tekanan inflasi) disebabkan oleh pembukaan kembali aktivitas masyarakat,” papar Powell, sebagaimana diwartakan Reuters.

Namun sejumlah anggota Senat kurang sepakat. Richard Shelby, Anggota Senat asal Alabama dari Partai Republik, menegaskan bahwa tekanan inflasi adalah ancaman yang sangat nyata.

“Pada 1970-an, inflasi tinggi memukul daya beli rakyat karena kenaikan harga barang dan jasa yang terus-menerus. Jika kita gagal melihat hal ini dengan serius, maka negara ini akan menghadapi masalah yang sama,” kata Shelby, seperti dikutip dari Reuters.

Sementara Sherrod Brown, Anggota Senat asal Ohio dari Partai Demokrat, meminta Powell untuk melihat betul dampak ikutan dari kebijakan moneter longgar. Pembelian surat berharga (quantitative easing) memang membuat likuiditas berlimpah, tetapi perbankan masih enggan memanfaatkannya untuk menyalurkan kredit kepada dunia usaha dan rumah tangga.

Namun Powell berkeras bahwa kebijakan moneter longgar masih dibutuhkan karena penciptaan lapangan kerja yang maksimal (maximum employment) belum tercipta. Oleh karena itu, The Fed tidak akan terburu-buru dalam mengubah posisi (stance) kebijakan.

“Kami akan menggunakan seluruh instrumen yang ada untuk menggiring inflasi kembali turun. Adalah sebuah kesalahan jika kami bertindak terlalu cepat,” tutur Powell.

Nada yang tenang alias dovish dari Powell mengindikasikan bahwa quantitative easing dan suku bunga acuan rendah mendekati 0% masih akan bertahan untuk beberapa waktu ke depan.

sumber: cnbcindonesia.com – Solid Gold