Solid Gold | Senin Kekar, tapi Akhir Pekan Emas Jadi Loyo Dihajar Kripto

Senin Kekar, tapi Akhir Pekan Emas Jadi Loyo Dihajar Kripto – Solid Gold

Solid Gold Semarang | Setelah sempat menguat di awal pekan, harga emas dunia tercatat tiga kali melemah dalam seminggu ini. Harga emas di pasar spot turun terus beberapa hari ini dan semakin menjauhi level US$ 1.800/troy ons.

Setelah tembus US$ 1.793/troy ons, tren harga emas terus menerus turun. Dalam sepekan, harga emas dunia turun 0,14% ke US$ 1768,69/troy ons.

Tekanan pada emas terjadi seiring sejumlah sentimen negatif yang membayangi, seperti sinyal kebangkitan dolar AS dan aset digital mata uang kripto (cryptocurrency)berupa Bitcoin.

Harga emas dunia mengawali pekan, Senin (26/4), dengan menguat 0,51% di US$ 1.771,18/troy ons disertai sentimen yang cenderung ‘mixed’ di saat warning terhadap potensi crash lanjutan aset digital cryptocurrency Bitcoin semakin bergaung.

Penguatan harga emas dunia tidak berlangsung lama, pasalnya pada Kamis (29/4) dan Jumat (30/4) harga emas dunia kembali jatuh secara beruntun.

Pada Kamis (29/4) harga emas turun 0,56% ke US$ 1771,24/troy ons. Sementara pada Jumat (30/4), harga emas terkikis 0,14% ke US$ 1.768,69/troy ons.

Harga emas dunia pada perdagangan Kamis (29/4), sebenarnya sempat menguat 0,48% di pagi hari setelah pengumuman kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed.

Kamis dini hari, bank sentral AS (The Fed) menegaskan tidak akan mengubah kebijakan moneternya dalam waktu dekat. Suku bunga 0,25% masih akan dipertahankan setidaknya hingga tahun 2023, meskipun perekonomian AS diakui tumbuh lebih tinggi ketimbang prediksi.

Namun, seiring dengan sentimen kebangkitan mata uang crypto, harga emas dunia berbalik arah dan akhirnya melemah selama dua hari berturut-turut.

Popularitas Bitcoin memang membuat emas redup. Selama ini banyak yang berspekulasi bahwa Bitcoin merupakan emas digital dan bisa dijadikan sarana lindung nilai (hedging) saat ada ekspektasi inflasi yang tinggi.

Di saat-saat seperti sekarang ini ketika bank sentral dunia memompa likuiditaslebih dari US$ 12 triliun ke sistem keuangan, banyak yang khawatir inflasi tinggi bakal terjadi. Pasokan uang yang tumbuh dengan pesat bisa memantik terjadinya kenaikan harga.

Hanya saja kali ini investor kurang melirik emas. Terjadi outflow di aset emas sementara Bitcoin kebanjiran inflow.

Ada outflow besar-besaran dari aset berbasis emas dan investor memindahkannya ke mata uang kripto. Hal tersebut membuat harga emas tertekan dan sebaliknya mendorong harga Bitcoin terkerek semakin tinggi.

Alasan emas memburu kripto salah satunya adalah merupakan aset keuangan baru yang dinilai bisa menggantikan emas untuk lindung nilai (hedging) terhadap inflasi.

Di tengah kebijakan bank sentral global yang ultra akomodatif dengan suku bunga rendah dan kebijakan cetak uang yang menggembungkan neraca bank sentral hingga US$ 12 triliun, ekspektasi inflasi meningkat.

sumber: cnbcindonesia.com – Solid Gold